Ini merupakan terjemahan saya yang sebelumnya diperuntukkan untuk tugas akhir mata kuliah Practice of Translation I. Selain itu, ini juga merupakan terjemahan fiksi yang pertama kali saya buat.
Dalam terjemahan ini, saya memisahkannya di setiap paragraf dan terdapat perbandingannya antara teks sumber dan teks terjemahan.
|
No |
ST |
TT |
|
Page 13 Paragraph 1 |
“You have a son,” said the
Emperor. “You must love him very much. Tell
me about your
home” |
“Kamu punya seorang putra yang
tentunya sangat kamu sayangi. Tolong katakan padaku tentang rumahmu.” ucap
Sang Kaisar. |
|
Page 13 Paragraph 2 |
“The house is in the hills
above Trujillo,” Maximus began. “It’s a simple place, pink stones that
warm in the sun. There’s a wall, a gate, and a small field of vegetables.”
Maximus looked up and saw
that the old man had closed his eyes as he listened. He was smiling. “Through the gate are apple
trees. The earth is black,
Marcus. As black as my wife’s hair. And we grow fruit and vegetables. There are
wild horses near the house—my son loves them.” “How long
is it since
you were last
home?” “Two years,
two hundred sixty-four
days—and one morning.” |
“Rumahku berada di daerah
perbukitan atas Trujillo dan merupakan tempat yang sederhana dengan bebatuan
berwarna merah jambu yang menghangatkan di bawah sinar matahari. Di sana juga
terdapat sebuah dinding, sebuah gerbang, dan sebuah kebun kecil yang terdapat
tanaman sayuran.” ujar Maximus sambil menengadahkan kepalanya ke atas sambil
melihat Marcus yang telah memejamkan matanya sambil mendengarkan ceritanya
dan tersenyum. “Di sepanjang gerbang terdapat
beberapa pohon apel dan tanahnya yang berwarna hitam, sehitam rambut istriku.
Kami menanam buah-buahan dan sayuran di situ. Selain itu, di dekat rumahku
juga terdapat kuda liar yang sangat disayangi oleh anakku.” lanjut Maximus
kepada Marcus. “Sudah berapa lama kamu
meninggalkan rumah?” tanya Marcus. “Dua tahun, dua ratus enam
puluh empat hari, dan satu pagi.” Jawab Maximus. |
|
Page 13 Paragraph 3 |
Marcus laughed. “I am jealous
of you, Maximus. Your home is good—something to fight for. I have one more
duty to ask of you before
you go home.” “What would you
like me to
do, Caesar?” “Before I die, I will give the
people a final gift. An empire at peace
should not be ruled by one man. I want to give power back
to the Senate.” |
Marcus tertawa dan berkata,
“Aku iri padamu, Maximus. Rumahmu merupakan sesuatu yang pantas untuk
diperjuangkan. Aku punya satu tugas lagi untukmu sebelum kamu kembali ke
rumah.” Ucap Marcus. “Apa tugas yang harus aku
lakukan, Baginda?” “Sebelum aku meninggal, aku
akan memberikan mu hadiah terakhir.” Ujar Sang Kaisar. “Sebuah kerajaan di
tengah kedamaian seharusnya tidak dipimpin oleh satu orang saja. Aku ingin
memberikan kekuasaan kembali kepada Senate.” lanjut Marcus. |
|
Page 13 Paragraph 4 |
Maximus was shocked. “But sir,
if no one man holds power, all men
will reach for
it” “You’re right. That is why I
want you to become the Protector
of Rome. Give power back to the people of Rome.” Maximus said nothing.
“You don’t want
this great honor?” “With all
my heart, no.” “That is
why it must
be you,” Marcus
replied. “But what
about Commodus?” “Commodus is not a good man. I
think you already know that.
He must not rule. You are more of a son to me than he is.” Marcus stood up. “Commodus will accept my
decision—he knows the
army is loyal
to you.” |
Maximus terkejut dan berkata,
“Tapi Baginda, jika tidak ada satu orang pun yang memegang kekuasaan, maka
akan banyak orang yang berusaha untuk mendapatkan itu.” “Kamu benar. Itulah mengapa aku
menginginkan kamu untuk menjadi pelindung bagi Roma dan memberikan kembali
kekuatan untuk rakyat Roma; kerajaan ini.” ujar Marcus. Melihat Maximus yang
hanya terdiam, Marcus bertanya, “Apakah kamu tidak menginginkan kesempatan
ini, Maximus?” “Sejujurnya tidak.” jawab
Maximus. “Itulah alasan mengapa harus
kamu yang menjadi pelindung bagi Roma.” ucap Marcus. “Lalu bagaimana dengan
Commodus?” tanya Maximus. “Commodus bukanlah orang yang
baik dan aku rasa kamu mengetahui hal itu. Dia tidak boleh berkuasa. Kamu
bukanlah sekedar anak bagiku.” jawab Marcus sambil berdiri. “Commodus akan menerima
keputusanku, dia tahu betul bahwa para prajurit patuh padamu.” lanjut Marcus.
|
|
Page 14 paragraph 1 |
A
piece of ice struck Maximus’s heart. “I need some
time sir” he said. “Of course. By sunrise tomorrow
I hope your answer will be yes.
Now let me hold you as a son.” Marcus put his arms around Maximus. |
Hati
Maximus seperti dihantam oleh bongkahan es mendengar hal itu,
ia berkata, “Beri aku waktu, Baginda.” “Tentu saja. Aku tunggu
keputusanmu sampai besok saat matahari terbit. Aku harap kamu menerima
tawaran ini. Saat ini, biarkan aku memelukmu sebagai anak.” ucap Marcus
sambil melingkarkan tangannya pada tubuh Maximus. |
|
Page 14 Paragraph 2 |
Maximus left the Emperor’s tent
feeling anxious. One more duty,
one he did not want—but could he refuse? He was a loyal soldier, loyal to Rome and
to Caesar. He stood outside the tent trying to
think clearly. Suddenly,
there was a
voice behind him. “You are
my father’s favorite
now.” Maximus turned and saw Lucilla.
As their eyes met, a shock of
emotion ran through
them both. “It was
not always true,”
said Lucilla. “Many things have changed since
we last met,” said Maximus, and he
turned to walk
away. “What did
my father want
with you?” ‘To wish
me luck, before
I leave for
Spain,” he replied, “You’re lying,” said Lucilla.
“I could always tell when you were lying.
You’re not very
good at it.” “I was
never as good
as you, my
lady.” |
Maximus pergi meninggalkan
tenda Sang Kaisar dengan perasaan gelisah. Satu tugas lagi, satu hal yang tidak
ia inginkan, tapi bisakah ia menolaknya? Maximus merupakan prajurit yang
setia, baik pada Kerajaan Roma maupun Sang Kaisar. Ia berdiri di luar tenda
sambil memikirkan keresahannya. Tiba-tiba, muncul sebuah suara dari
belakangnya. “Kamu adalah kesayangan ayahku saat ini.” Maximus berbalik dan melihat
Lucilla. Mata mereka bertemu dan
mengejutkan perasaan mereka. “Tidak semua hal selalu benar.”
ucap Lucilla. “Banyak hal berubah sejak kita
terakhir bertemu.” ujar Maximus, sambil berbalik untuk bersiap pergi. “Apa yang ayahku inginkan
darimu?” “Ia mengharapkan kesuksesanku
sebelum aku pergi ke Spanyol.” jawab Maximus. “Kamu bohong, dan aku selalu
tahu itu. Kamu bukanlah orang yang pandai berbohong, Maximus.” ucap Lucilla. “Aku memang tidak pernah sepandai
dirimu, Tuan Putri.” |
|
Page 14 Paragraph 3 |
Lucilla did
not try to
deny it. Again,
Maximus tried to
leave. “Maximus, please . . . is it
really so terrible
to see me
again?” “No, I’m
sorry. I’m tired
from battle,” he
said. “And you’re upset to see my
father so weak. Commodus expects our father to name
him in a few days as the next Caesar. Will you
be as loyal
to him as
you have been
to Marcus?” |
Lucilla tidak menyangkal hal
itu dan Maximus pun kemudian mencoba pergi. “Maximus, tunggu...apakah
seburuk itu bertemu denganku?” “Bukan begitu, maafkan aku. Aku
hanya lelah dengan pertempuran.” jawab Maximus. “Dan kamu terganggu karena
kondisi ayahku yang saat ini lemah, sedangkan Commodus mengira bahwa ayah kami akan menjadikan ia sebagai penerus
Sang Kaisar. Akankah kamu setia padanya sebagaimana kamu setia terhadap
ayahku?” tanya Lucilla. |
|
Page 14 paragraph 4 – page 15
paragraph 1 |
This was a difficult question,
but Maximus never forgot that
he was talking
to one of
the royal family. “I
will always be
loyal to Rome,”
he said. “Do
you know I still remember you when I speak to the gods?” said
Lucilla, smiling. “I was sorry to hear of your
husband’s death, I understand you have a
son.” “Yes,” said
Lucilla. “Lucius. He’s
almost eight years
old.” “I, too,
have a son
who is eight
years old.” They smiled
at each other
again. “I
thank you for your kind thoughts,” said Maximus,
and then he walked
slowly back to his tent. Lucilla watched him go. Her thoughts were confused, and her emotions reminded her that
she had once
loved this man. |
Ini adalah pertanyaan yang
sulit, tetapi Maximus tidak melupakan fakta bahwa saat ini ia tengah
berbicara dengan salah satu keluarga kerajaan. “Aku akan selalu setia pada
Kerajaan Roma.” jawab Maximus. “Apa
kamu tahu bahwa aku masih menyebut namamu saat aku berbicara pada para dewa?”
ucap Lucilla sambil tersenyum. “Aku turut berduka cita atas
kematian suamimu, dan aku mengerti bahwa kamu memiliki seorang putra.” “Ya. Lucius namanya, sekarang
usianya sudah hampir delapan tahun.” ucap Lucilla. “Aku juga mempunyai seorang
putra yang seumuran dengan putramu.” ujar Maximus sambil mereka tersenyum
satu sama lain. “Terima
kasih atas kebaikanmu.” ujar Maximus pada Lucilla, dan
kemudian ia berjalan perlahan kembali ke tendanya. Lucilla melihatnya pergi dengan pikiran dan perasaannya yang kacau
karena teringat bahwa ia pernah mencintai lelaki itu di masa lalu. |
|
Page 15 Paragraph 2 |
Maximus sat in front of a low
table in his tent. On the table were
small wooden figures of his family—parents and grandparents. In the center, protected by the
others, were the two smallest figures. These
were his wife
and child. |
Maximus tengah duduk di depan
meja pendek dalam tendanya. Di atas meja tersebut terdapat kayu-kayu kecil
yang menggambarkan keluarganya; orang tua serta kakek dan neneknya. Di
tengahnya terdapat dua kayu paling kecil yang dilindungi kayu-kayu lainnya.
Itu adalah istri dan anaknya. |
|
Page 15 Paragraph 3 |
As he looked at his family, he
tried to imagine what his father or grandfather would do in
his situation. What would they
decide? How would they advise him? He picked up the figure of his wife
and kissed it. “Cicero,” he called out. Behind
him, his servant Cicero appeared
and gave him a drink. “Do you ever find it difficult to do your
duty?” Maximus asked
him. |
Ketika ia memandangi
keluarganya, ia membayangkan apa yang akan dilakukan oleh ayahnya atau
kakeknya dalam situasinya saat ini. Apa keputusan mereka? Bagaimana mereka
bisa memberitahunya? Ia mengambil lukisan
wajah istrinya, lalu menciumnya. “Cicero,” panggil Maximus
kepada pelayannya yang kemudian muncul di belakangnya dan memberikannya
segelas minuman. “Apakah kamu pernah merasa kesulitan ketika melakukan
tugasmu?” tanya Maximus kepada pelayannya. |
|
Page 15 Paragraph 4 |
Cicero, a tall, thin man with
long hair, thought about the
question for a few seconds. “Sometimes I do what I want to do, sir,” he
said. “The rest
of the time
I do what
I have to
do.” Maximus smiled. “We may not be able
to go home,” he said, sadly. |
Cicero, seorang lelaki
berperawakan kurus tinggi dengan rambut panjangnya, ia terdiam memikirkan
pertanyaan tersebut selama beberapa detik. Kemudian, ia menjawab, “Aku hanya
melakukan apa yang harus aku lakukan. Setelahnya, terkadang aku melakukan apa
yang aku inginkan.” Maximus tersenyum mendengar
jawaban pelayannya tersebut. “Kita mungkin tidak bisa pulang ke rumah.” kata
Maximus dengan raut sedihnya. |
|
Page 15 Paragraph 5 |
Marcus Aurelius sat in his
great tent, lit only by the light of a fire, and prepared himself to tell
Commodus of his decision. Finally, he said,
“You will
do your duty
for Rome.” |
Marcus Aurelius duduk di dalam
tenda besarnya yang hanya diterangi oleh cahaya api. Ia telah menyiapkan
dirinya untuk memberi tahu Commodus tentang keputusannya. “Kamu akan melakukan tugasmu untuk
Kerajaan Roma.” ucap Marcus pada anaknya, Commodus. |

Komentar
Posting Komentar